Le Monde de Midi

Vouloir c'est Pouvoir


Aku masih menggenggam cangkir kopiku erat. Aroma kopi tercium jelas dari asapnya yang masih mengepul. Namun aku lebih memilih untuk menatap butiran salju yang turun dari langit daripada mencicipi rasanya. Ingatanku melayang ke pertengahan musim gugur dua bulan lalu. Saat daun-daun maple mulai meninggalkan dahannya, aku memulai masa-masa sulitku.
“Maafkan aku,” katamu saat kita berjalan bersama di boulevard dekat kampus.
“Maaf? Untuk apa?” aku tak mengerti maksud ucapanmu. Aku tak merasa kau bersalah padaku. Lalu apa gunanya minta maaf?
“Untuk segalanya,” jawabmu sambil mengalihkan pandanganmu menatap guguran daun maple yang berserakan di jalan.
“Maksudmu?” aku semakin tak mengerti maksud pembicaraanmu. Saat itu,kau tidak segera menjawab. Kau terus saja berjalan di sisiku sambil terus memperhatikan guguran daun yang terserak di jalan. Kau masih saja diam. Aku membiarkannya. Aku tak ingin mendengarkan penjelasanmu. Aku terlalu takut untuk mendengarnya.
“Maaf karena aku telah masuk ke kehidupanmu,” kau akhirnya menjawabnya. Aku terhenyak, semakin tak mengerti maksud ucapanmu. Aku menghentikan langkahku dan duduk di kursi yang tersedia di pinggir jalan. Aku benar-benar tak mengerti maksud perkataanmu.
“Kau sama sekali tak bersalah, kenapa harus minta maaf?” tanyaku pelan. Kau menghentikan langkah pelanmu dan berbalik menuju tempatku terduduk lesu. Setelah berdiri untuk beberapa saat, kau mengambil tempat duduk di sebelahku.
“Kau lihat daun yang berguguran itu?” kau bertanya seraya melayangkan pandangan kosong ke arah daun-daun yang melayang di udara.
“Kenapa dengan daun itu?” aku semakin tak mengerti arah pembicaraanmu.
“Aku akan seperti mereka,” kau menjawabnya dengan suara yang begitu pelan, berharap hembusan angin akan mengalahkan suaramu. Aku bergeming untuk beberapa saat. Aku lalu tersadar akan keadaanmu saat ini. Aku tertunduk lesu, terdiam untuk waktu yang cukup lama.
“Kau pasti bisa melaluinya, chèrie. Kau pasti bisa,” aku mencoba memberikan semangat kepadamu walaupun aku sendiri ragu dengan kalimat yang baru saja aku katakan.
“Tidak semudah itu aku dapat melaluinya,” kau masih menatap dedaunan yang gugur dengan pandangan kosong.
“Aku akan mendampingimu. Aku akan selalu mendampingimu untuk melaluinya,” kataku mantap.
“Tidak. Kau tidak akan bisa. Tidak akan mampu,” kau terdiam sejenak. “Kau juga butuh hidupmu, tak selamanya kau akan selalu di sampingku. Sudah terlalu lama. Kau butuh kehidupanmu sendiri.”
Aku terdiam mendengar ucapanmu. “Tapi ak--”.
“Mulai sekarang, cobalah untuk melepasku dengan perlahan,” kau tertunduk setelah mengatakannya. Aku melihat air mata menggenang di pelupuk matamu saat kau mengatakan kalimat itu.
***
Aku masih menggenggam cangkir kopiku. Kepulan asapnya sudah mulai menghilang. Aku menyeruput kopiku sedikit, menikmati rasanya hingga ia melewati tenggorokanku dan akhirnya masuk ke lambungku. Hangat. Tapi kehangatan kopi itu tak sehangat perasaanku. Sepertinya dingin dan bekunya salju lebih tepat untuk menggambarkan perasaanku.
Andai saja kau masih disini untuk sekadar menemaniku menikmati kopi di café ini, mungkin perasaanku akan berbeda. Namun kenyataannya kau sudah tidak ada disini. Kau sudah pergi dengan membawa serta asaku. Kita sudah terlalu lama bersama-sama sehingga hidup tanpamu terasa tak berguna untukku.
Bel café itu berdenting nyaring, pertanda ada pengunjung yang membuka pintunya. Ucapan selamat datang terdengar ramah dari pemilik café terhadap pengunjung yang baru datang itu. Aku menoleh ke arah pintu sejenak untuk melihat pengunjung yang datang. Ternyata sepasang kekasih. Aku kembali teringat akan kenangan kita saat pertama kali datang ke café ini. Aku tak begitu suka saat kau mengajakku kesini. Aku tak terlalu suka untuk pergi ke tempat-tempat seperti ini. Namun kau mnegubah itu semua. Kau membuatku menyukai tempat ini dan akhirnya menjadikannya tempat favorit kita berdua.
“Kau sudah menunggu lama? Maaf, aku baru saja bertemu profesor untuk mendiskusikan tugas akhirku,” katamu waktu itu, sambil tergesa meletakkan diktat-diktat tebal yang kau bawa ke atas meja sebelum akhirnya kau duduk di kursimu. Aku hanya terdiam, kemudian mengalihkan pandanganku ke luar jendela.
“Kau marah padaku?” kau bertanya dengan nada takut padaku. Aku masih terdiam. Mana mungkin aku marah padamu? Setiap menatap mata hazelmu, aku tak dapat melakukan apapun. Jadi, mana mungkin aku bisa marah padamu?
Aku mengalihkan pandanganku dan menatap wajahmu. “Aku tidak marah sama sekali,” kataku kemudian. Senyum merekah di wajahmu, membuatku mau tak mau juga ikut tersenyum. “Kau terlihat begitu lelah,” kataku setelah beberapa saat memperhatikanmu.
“Oh, mungkin karena aku baru saja berlari kesini,” jawabmu sambil menyeka peluh yang keluar dari dahimu. “Dan mungkin juga karena bawaanku yang cukup berat,” tambahmu. Aku melirik ke atas meja dan memperhatikan diktat-diktat yang kau bawa, Kau pasti sangat keberatan membawa itu semua.
“Seharusnya kau tidak perlu berlari, cukup berjalan saja. Kau pasti sangat kelelahan membawa diktat tebal itu sambil berlari.”
“Aku tidak mau kau menunggu terlalu lama. Jadi aku harus berlari untuk kesini,” jawabmu masih dengan terseyum. Aku tertegun. Sebegitupedulikah kau terhadapku? Sehingga kau tak memedulikan hal yang lebih mengerikan yang akan terjadi kepadamu?
“Kau tak perlu melakukannya lagi. Kau tahu kan itu dapat membahayakan dirimu?” kataku dengan sedikit nada marah dalam suaraku.
“Maaf,” hanya itu yang kau katakan sebelum akhirnya menundukkan kepalamu.
***
Salju turun semakin deras ketika aku menilik isi cangkirku yang tinggal separuh. Aku masih melayangkan pikiranku untuk mengingat semua kenangan tentang dirimu. Segala tentangmu memang sudah terlalu lekat di ingatanku. Sejak kecil hingga kau akhirnya pergi meninggalkanku lebih dulu, kita selalu bersama-sama. Tidak. Aku salah. Aku tidak bersamamu ketika kau menghembuskan napas terakhirmu. Aku tidak menemanimu ketika kau berjuang untuk tak meninggalkan dunia ini selamanya. Aku minta maaf untuk itu. Aku sangat menyesal karena tak bisa menemanimu di akhir hidupmu, di akhir musim gugur kesukaanmu.
Bel café itu berdenting lagi. Aku menoleh untuk melihat siapa yang datang. Seorang lelaki paruh baya memasuki café. Ia segera memesan sesuatu dan langsung mencari tempat kosong untuk duduk. Dia membuka laptopnya dan menatap layarnya dengan dahi berkerut. Aku mengamatinya sejenak. Dari caranya menatap layar laptopnya itu, sepertinya ia sedang banyak pekerjaan.
Aku mengalihkan pandanganku untuk kembali menatap ke luar jendela. Butiran salju yang turun sudah tidak terlalu deras. Aku menatap isi cangkirku sejenak, kemudian meneguk habis seluruh isinya. Aku beranjak dari tempat dudukku dan menuju kasir untuk membayar kopiku. Setelah mengucapkan terima kasih, aku melangkahkan kakiku menuju pintu keluar. Aku membuka pintu café itu sehingga bel yang tergantung di atasnya kembali berdenting. Aku berhenti sejenak, menikmati dentingan bel pintu itu sebelum akhirnya benar-benar melangkahkan kakiku keluar café.
Aku membalikkan badanku menatap café itu setelah sampai di luar. Aku mengamati bangunan itu untuk yang terakhir kali. Aku sudah berjanji bahwa ini kali terakhirku mengunjungi tempat itu. Aku tak akan mengunjunginya lagi karena tempat itu terlalu penuh dengan kenangan tentangmu. Biarkan kenangan tentang kita tersimpan rapi di bangunan itu tanpa perlu aku datang lagi untuk mengusiknya.
Aku berjalan gontai meninggalkan tempat itu. Salju kembali turun dengan deras. Kali ini lebih deras dari sebelumnya. Aku melangkahkan kakiku semakin pelan, merasakan tubuhku yang sudah mulai lelah untuk berjalan. Aku duduk di kursi yang dulu menjadi saksi ucapan perpisahanmu kepadaku. Aku menatap pohon yang ditinggalkan daunnya berguguran. Kini pohon itu terselimuti salju tebal di setiap rantingnya. Aku kembali teringat akan peristiwa di akhir musim gugur lalu. Peristiwa yang membuat semangat hidupku benar-benar terenggut. Aku tertunduk dalam. “Di musim gugur berikutnya, mungkin aku sudah kembali berada di sisimu.” Aku tersenyum setelah mengatakannya. Aku bangkit dari dudukku dan kembali meneruskan langkahku. Aku semakin pelan melangkahkan kakiku hingga kemudian aku jatuh terduduk di atas tumpukan salju. Setelah itu, aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada diriku.
-FIN-

Depok, 4 November 2012 at 07.30 PM
ajengmidi



Semilir angin mengibarkan rambut panjangnya. Ia masih duduk termenung memandang langit. Sedari tadi, aku sudah memerhatikannya dari tempatku berdiri sekarang. “Dia cantik,” gumamku lirih. Entah sejak kapan aku mulai menyukainya. Yang pasti, setiap pulang sekolah aku selalu menunggunya di gerbang sekolah, dan secara diam-diam mengikutinya ke tempat ini, sebuah padang rumput di dekat bukit. Aku selalu memerhatikannya dari atas sini, di bawah pohon rindang di tepi jalan setapak menuju padang rumput itu. Aku tak berani turun untuk menemuinya. Hanya memerhatikannya saja, itu sudah cukup bagiku.
***
Waktu bergulir begitu cepat. Ternyata sudah satu tahun aku menyimpan sendiri perasaanku. Aku ingin menyampaikan padanya, tapi bagaimana mungkin? Aku terlalu pengecut dalam hal ini. Walaupun sudah kukumpulkan keberanian untuk mengatakan padanya, aku tetap tak mampu melakukannya. Dan keadaan ini diperparah dengan hadirnya orang lain di dekatnya. Yah, dia sudah memiliki seseorang sekarang. Aku memang sedikit terlambat. Bukan hanya sedikit, aku memang benar-benar terlambat untuk menyampaikan perasaanku kepadanya. Akan tetapi, hal tersebut tak mengubah kebiasaanku. Aku masih secara diam-diam mengikutinya pergi ke padang rumput sepulang sekolah. Aku masih tetap pada tempatku, di bawah pohon rindang di tepi jalan setapak. Dan aku merasa lega karena ia tak pernah membawa teman laki-lakinya itu ke tempat ini. Akhirnya aku menganggap bahwa tempat ini merupakan tempat favorit kami berdua. Mungkin hanya aku yang menganggap demikian. Bahkan dia pun tak tahu kalau aku selalu mengikutnya ke tempat ini. Jadi mana mungkin dia menganggap bahwa tempat ini merupakan favorit kami berdua, kan?
***
Aku termenung duduk di bangkuku. Berkali-kali kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah hampir jam delapan, kenapa dia belum juga muncul? Mungkinkah ia tak masuk hari ini? Tetapi kenapa? Bukankah ia baik-baik saja kemarin? Bahkan ia masih mengunjungi padang rumput di dekat bukit. Tidak mungkin ia sakit hari ini. Aku terus mencemaskannya  hingga bel masuk akhirnya berdering. “Ah, mungkin ia terlambat,” batinku, lebih untuk menenangkan diriku sendiri. Namun harapanku pupus setelah bel istirahat akhirnya berdering. Ia tak masuk hari ini. Tetapi kenapa? Aku terus memikirkannya hingga akhirnya jam sekolah usai.
Aku pulang dengan mengayuh sepedaku. Sebenarnya aku ingin langsung pulang. Namun entah kenapa aku berkeinginan untuk ke padang rumput dahulu. Aku berharap dapat menemukannya di sana. Namun segera kusergah pikiran itu. Hari ini saja ia tak masuk, jadi mana mungkin ia pergi ke padang rumput? Setelah mengayuh untuk beberapa lama, akhirnya aku sampai di tempat itu. Aku menuju tempatku biasa berada. Belum sempat aku duduk di sana, pandanganku menangkap seseorang di tempat biasanya ia berada. Seorang gadis menggunakan blouse berwarna biru muda sedang duduk di sana. Aku meyakinkan pandanganku dengan mengerjap-ngerjapkan mataku untuk beberapa saat. Namun, tetap saja gadis itu yang nampak di sana. “Kenapa ia di sini?” gumamku lirih. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sehingga aku tak menyadari ia sudah meninggalkan tempat dimana ia duduk. Dan sekarang ia berada di hadapanku. Ya, dia benar-benar di hadapanku. Jantungku tiba-tiba berdegup sangat cepat. Rasanya seperti ia akan meninggalkan rongga dadaku. Aku hanya memandangnya sebelum akhirnya tersenyum. Kaku.
“Kau juga sering ke sini?” ia membuka pertanyaan.
“Ehm, i..iya,” jawabku terbata-bata sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
“Sejak kapan?” tanyanya lagi.
Ya Tuhan, haruskah aku menjawab pertanyaannya yang satu ini? Bagaimana kalau dia curiga? Bagaimana jika dia akhirnya tahu bahwa selama setahun belakangan ini aku selalu membuntutinya ke tempat ini? “Eh.. sekitar satu tahun yang lalu,” jawabku jujur dengan menundukkan kepalaku. Malu.
“Aku tahu.”
“Eh?” aku mengangkat kepalaku. Terkejut dengan pernyataannya.
“Iya, aku mengetahuinya,” katanya penuh keyakinan.
“Te..tet..tapi bagaimana?” tanyaku gugup.
“Entahlah, tapi aku mengetahuinya. Kau selalu menungguku di gerbang sekolah dan secara diam-diam mengikutiku untuk pergi ke tempat ini. Dan di sinilah tempatmu selalu duduk untuk menungguiku sampai aku pulang,” jawabnya.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa tertunduk malu dan merasa bersalah karena tanpa sepengetahuannya, aku mengikuti gadis itu selama ini.
“Hei, kenapa kau menunduk?” tanyanya sambil memegang pundakku. Aku mengangkat kepalaku, dan senyum itu sedang terkembang. Ya Tuhan, baru kali ini aku melihatnya tersenyum selepas itu. Walaupun berada di kelas yang sama, aku belum pernah melihatnya tersenyum sekali pun. Ia memang anak yang sedikit tertutup. Aku terkadang heran, anak seperti dia bisa mendapatkan pacar. Padahal ia jarang sekali terlihat berkumpul dengan anak-anak lain. Walaupun begitu, toh aku tetap menyukainya.
“Maafkan aku,” jawabku setelah beberapa saat terdiam.
“Maaf? Untuk apa?” tanyanya heran.
“Karena aku telah mengikutimu secara diam-diam selama ini,” aku tertunduk lagi.
“Hei, kau tak bersalah. Jadi untuk apa meminta maaf? Aku juga tidak terganggu denganmu yang selalu mengikutiku ke tempat ini,” ia tersenyum lagi.
“Eh, terima kasih,” aku memandangnya. Tersenyum. “Kenapa kau tak masuk hari ini? Kau tidak sakit kan?” tanyaku dengan nada sedikit khawatir.
Dia tak langsung menjawab pertanyaanku. Ia mengambil posisi duduk di bawah pohon tempat kami berdiri. Aku mengikutinya dan duduk di sampingnya. Ia memandang ke arah padang rumput dengan pandangan yang sedikit kosong. Aku masih terus memerhatikannya, menunggu jawabannya.
“Aku sudah keluar dari sekolah,” katanya setelah terdiam beberapa lama dengan suara sepelan mungkin. Aku yakin, ia ingin menangis saat mengatakan hal itu. Suaranya terdengar tercekat di tenggorokan.
“Kenapa?” aku bertanya padanya. Juga dengan suara tak kalah pelan.
Ia terdiam lagi. Sepertinya ia sangat berat untuk mengatakan hal ini. Seperti ada sesuatu di tenggorokannya yang mencekat suaranya untuk keluar. Aku ikut terdiam. Lama kami melakukan hal tersebut. Hanya semilir angin dan suara gemerisik rerumputan yang terdengar di telingaku. Aku menatapnya sejenak. Ia masih memandangi langit sore yang berwarna jingga kemerahan. Pandangannya masih nampak kosong. Ia juga belum menjawab pertanyaanku. Sudah sekitar lima belas menit sejak aku mengajukan pertanyaan itu. Entah apa yang membuatnya seperti tak mau menjawab pertanyaanku.
“Sudahlah jika kau tak mau menjawabnya,” kataku kemudian.
“Tidak… A-aku harus pergi ke Melbourne,” jawabnya lemah. Ia tertunduk lesu. Sepertinya ia benar-benar ingin menangis kali ini.
“Melbourne? Kapan? Kenapa?” aku memberondongnya dengan pertanyaanku. Aku sangat terkejut dengan hal yang ia katakan. Ia tak segera menjawab. Kini isakan mulai terdengar dari mulutnya. Ia masih bungkam untuk menjawab. Mungkin dia belum ingin menjawabnya atau memang tak ingin menjawabnya? Entahlah. Kenapa aku jadi merasa seperti ini? Kenapa aku justru merasa tidak rela jika dia harus pergi dari sini? Dari sisiku. Hari beranjak petang. Matahari hanya tinggal menampakkan semburat sinar jingganya membuat pendar warna oranye di langit dan awan sore hari. “Sebaiknya kita pulang, ayo aku antar ke rumahmu,” ajakku kemudian. Ia hanya mengangguk dan meraih tanganku untuk digandengnya. Aku mengantarnya pulang dengan sepedaku. Kami hanya diam selama perjalanan, tak sepatah kata pun keluar dari mulut kami berdua.
“Kau tidak masuk dulu?” dia menawariku untuk singgah sebentar di rumahnya. Tapi hari sudah semakin gelap, aku menolaknya dengan halus. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika aku terlalu lama bersamanya hari ini. Mungkin aku tak akan mengijinkannya pergi esok hari. Lebih tepatnya pergi dari sisiku.
“Hati-hati di jalan,” ia berpesan kepadaku.
“Istirahatlah, besok kau harus berangkat,” kataku sambil beranjak pulang menuntun sepedaku. Aku tak berani memandang wajahnya. Aku takut tak bisa melepaskannya pergi. Tanpa kusadari ternyata air mata telah menetes dari kedua pelupuk mataku. Memang aku bukan siapa-siapa untuknya. Tapi tak bolehkah aku merasa tidak rela jika ia pergi? Dan satu lagi, aku belum mengatakan perasaanku padanya. Mungkin hal satu ini tak perlu kukatakan. Cukup aku dan Tuhan yang mengetahuinya. Aku tak mau membebaninya di saat seperti ini.
***
Kabut masih menggelayut di sekitar bukit ketika aku bangun dari tidurku. Suara cicit burung sudah mulai terdengar menyambut pagi. Perlahan-lahan sang surya pun keluar dari peraduannya. Aku termenung sejenak sebelum beranjak dari tempatku. Aku merindukannya. Sudah cukup lama sejak kepergiannya ke Melbourne aku tak mendapat kabar darinya. Seperti apa dia sekarang? Masihkah senyum manis itu melekat di bibirnya? Aku merindukan segalanya darinya.
***
Aku masih berkutat dengan kameraku untuk mencari objek ketika tak sengaja aku sampai ke tempat dimana dulu kami sering menghabiskan waktu sepulang sekolah. Tempat ini masih sama. Hanya sekarang sudah lebih terawat sehingga pemandangan di sana pun semakin bagus. Pohon rindang dimana aku sering menungguinya pun masih kokoh berdiri di tepi jalan setapak menuju padang rumput itu. Andai dia masih di sini, mungkin kami akan setiap hari mengunjungi tempat ini bersama. Atau mungkin tidak, karena dia mungkin akan mengajak orang lain ke tempat ini. Entahlah.
Aku beranjak turun ke padang rumput di bawah. Selama aku mengikutinya ke sini, belum satu kali pun aku turun ke tempat ini. Aku selalu memerhatikannya dari bawah pohon di tepi jalan. Ternyata ada semacam sungai kecil di sini. Aku segera mengambil kameraku untuk mengabadikan pemandangan indah itu. Aku duduk di tepi sungai dan mencelupkan kakiku kedalamnya. Dingin. Sedingin hatiku yang merindukan kehadirannya kembali. Aku menengadahkan wajahku ke langit. Matahari sudah berada di ufuk barat bersiap pulang ke peraduannya. Aku teringat saat ia mengatakan perpisahan itu. Ia pun belum mengatakan alasannya untuk pergi. Itu salahku jika tak mengetahui alasannya untuk pergi karena aku tak datang saat ia akan berangkat. Aku takut aku tak bisa melepaskannya pergi. Dan aku lebih memilih untuk pergi ke tempat ini daripada harus bertemu dengannya yang akhirnya aku pun tak dapat menemuinya lagi.
Aku masih memandangi langit sore. Mengingat wajahnya yang selalu tersenyum setiap ia memandang langit. Sepertinya ia akan merasa damai jika memandang langit. Aku pun demikian. Sama sepertinya, langit membuatku merasa damai.
Di langitku sekarang, angkasa berlatar belakang merah muda. Setitik cahaya terkecil di sana adalah bintang terindah untukku. Apakah kau sedang menatap langit yang sama di sana? Dan apakah pula bintang terindahku tertatap olehmu?

FIN

Depok, 10 Oktober 2012 at 10.40 PM


Aku dilahirkan di sebuah kota kecil di Propinsi Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Purworejo pada 24 Desember 1994. Aku diberi nama Ajeng Lestari Midi Setyoputri oleh orang tuaku. Kau dapat memanggilku Ajeng. Aku beralamatkan di Desa Brunorejo RT 02 RW 04 Kecamatan Bruno Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Awal pendidikanku bermula dari sebuah sekolah dasar di dekat tempat tinggalku, tepatnya di SD Negeri 02 Bruno. Di sekolah dasar ini prestasiku juga bermula. Aku selalu mendapat peringkat pertama, mulai dari kelas satu sampai dengan kelas enam. Bahkan untuk peringkat ujian nasional pun demikian. Setelah menamatkan sekolah dasar, aku melanjutkan ke SMP Negeri 21 Purworejo. Di SMP ini pun prestasi atas peringkat satuku masih tetap dapat dipertahankan. Di  SMP ini pula aku mulai mengenal kehidupan berorganisasi seperti OSIS dan kepramukaan. Aku turut serta dalam kedua organisasi tersebut, di OSIS aku terpilih menjadi ketua, sementara di kepramukaan aku hanya menjadi anggota. Setelah menamatkan SMP, aku melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 7 Purworejo. Ketika bersekolah di sekolah tersebut, aku mulai belajar hidup mandiri karena harus hidup terpisah dengan orang tua atau dengan kata lain kos. Hanya seminggu sekali aku pulang ke rumah.
Di SMA ini, prestasiku sempat menurun saat berada di kelas satu. Saat penerimaan rapor, hanya peringkat tiga yang kudapatkan. Mungkin karena kehidupan di SMA sangat berbeda jauh dengan kehidupan di SMP sehingga membuatku masih merasa sulit untuk beradaptasi dan akhirnya membuat prestasiku sempat menurun. Namun itu tidak bertahan lama, karena di kelas dua, prestasiku kembali lagi seperti semula. Aku masuk di jurusan Bahasa saat itu. Aku memilih jurusan Bahasa karena di kelas ini aku akan dapat mempelajari lebih banyak bahasa asing, selain itu juga dapat mengetahui banyak kebudayaan yang terdapat di Indonesia maupun di negara luar. Aku memang senang mempelajari bahasa asing dan kebudayaan, jadi aku memutuskan untuk masuk jurusan Bahasa ini. Awalnya, sebelum aku masuk jurusan ini, banyak teman-temanku yang mengejek karena menurut mereka di jurusan bahasa akan sulit mendapatkan perguruan tinggi untuk melanjutkan sekolah. Namun aku tak pernah memedulikan kata-kata mereka. Aku tetap teguh pada prinsipku untuk tetap masuk jurusan Bahasa, dan sekarang aku dapat membuktikannya. Aku dapat berprestasi melalui jurusan Bahasa.
Penghujung kelas tiga pun sudah akan tiba. Ujian Nasional sudah berada di depan mata. Namun, sebelum ujian dilaksanakan, ada sebuah seleksi masuk perguruan tinggi yang dinamakan SNMPTN Undangan. Alhamdulillah, setelah mengecek beberapa syaratnya aku dapat mengikuti seleksi ini. Pendaftaran dan pengisian tujuan universitas dan jurusan pun dilakukan. Sebelum pemilihan jurusan ini, aku berdiskusi terlebih dahulu dengan kedua orang tuaku. Sempat terjadi perdebatan dalam pemilihan universitas dengan ibuku. Aku ingin melanjutkan ke universitas yang sudah aku impikan semenjak duduk di bangku kelas enam sekolah dasar, Universitas Indonesia. Sementara ibuku ingin aku melanjutkan di sebuah universitas di Yogyakarta. Alasan ibuku memilih universitas tersebut hanya sepele, agar tidak terlalu jauh dari rumah dan agar aku bisa lebih sering untuk pulang ke rumah. Namun aku tetap bersikukuh dengan pilihanku itu. Setelah melalui perundingan yang cukup lama dan meminta pendapat dari banyak pihak, akhirnya aku diijinkan untuk memilih Universitas Indonesia sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikanku.
Saat pendaftaran SNMPTN tersebut aku mendaftarkan diri pada dua universitas, yaitu Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan Satra Perancis dan Sastra Rusia, sementara universitas lainnya aku memilih salah satu universitas di kota Solo.
Setelah proses penantian yang cukup lama, akhirnya pengumuman SNMPTN pun keluar. Sebelumnya aku tidak tahu kalau pengumumannya ternyata dimajukan satu hari. Temanku lah yang memberitahuku dan dia juga yang mengecek pengumumanku terlebih dahulu, dia mengatakan jika aku diterima di Universitas Indonesia jurusan Sastra Perancis. Aku belum percaya sepenuhnya sehingga aku meminta bantuan temanku yang lain untuk mengeceknya lagi. Mereka juga bilang hal yang sama. Akhirnya, karena rasa tidak percayaku, aku membuka sendiri pengumuman itu. Dan Alhamdulillah memang benar aku diterima di Sastra Perancis Universitas Indonesia. Ucapan syukur tak henti-hentinya keluar dari mulutku dan kedua orang tuaku. Hari itu menjadi hari yang paling tak terlupakan, karena selain mengetahui pengumuman bahwa aku diterima di UI, di hari itu pula aku diwisuda oleh sekolah dan mendapat penghargaan sebagai peraih peringkat pertama pada nilai UAN dan nilai sekolah dari jurusan Bahasa. Aku telah mengukir berbagai prestasi dalam hidupku, tepat di hari itu, 26 Mei 2012.
Setelah mengetahui bahwa aku diterima, aku langsung mencari berbagai informasi untuk persyaratan daftar ulang. Aku mencari informasi dari teman-temanku dari Purworejo yang juga diterima di UI dan kakak kelas yang sudah kuliah di sana. Setelah berbagai persyaratan untuk daftar ulang yang cukup rumit terpenuhi, aku dan teman-temanku dari Purworejo berangkat bersama-sama ke Depok untuk melaksanakan daftar ulang di Universitas Indonesia. Di sana kami semua tinggal di kos maupun di kontrakan kakak kelas kami yang ada di sana. Kebetulan mahasiswa Purworejo yang ada di UI mempunyai sebuah paguyuban yang bernama KOMPOR (Komunitas Mahasiswa Purworejo) dan itu sangat membantu bagi kami sebagai mahasiswa baru untuk mendapatkan informasi dari UI.
Setelah proses daftar ulang selesai, kami segera kembali ke Purworejo untuk mempersiapkan berbagai hal untuk mengikuti pelaksanaan kegiatan mahasiswa baru (KAMABA) yang akan segera dilaksanakan.
Betul-betul sebuah perjuangan untukku agar bisa masuk ke kampus perjuangan ini. Mulai dari aku hanya bermimpi untuk masuk universitas ini, hingga aku sekarang benar-benar diterima di sini. Di sebuah kampus yang dikenal dengan sebutan Kampus Perjuangan, Universitas Indonesia. Dan tentu saja perjuanganku belum berakhir sampai di sini. Masih ada banyak perjuangan agar aku dapat lulus dari universitas ini, juga perjuangan untuk menghadapi dan mengatasi kesulitan hidup hingga akhirnya dapat mencapai kesuksesan yang aku inginkan.


Iseng, nyoba ikutan



Greed:Very Low
Gluttony:Medium
Wrath:Low
Sloth:High
Envy:Very Low
Lust:Low
Pride:Medium

Discover your sins ~ Click Here



28 Agustus 2012 merupakan puncak acara OKK (Orientasi Kehidupan Kampus) Universitas Indonesia 2012. Acara OKK hari terakhir ini asyik banget. Di dalemnya kita para maba (mahasiswa baru) disuguhi berbagai acara yang bermanfaat antara lain talkshow dengan tokoh-tokoh inspiratif Indonesia. Yap, dalam talkshow ini menghadirkan banyak sekali tokoh inspiratif kayak Kak Elang Gumilang, seorang pengusaha muda, Pak Fadli Zon (Politikus), ada Pak Raden yang nyiptain boneka unyil, dan yang paling menarik adalah dengan kehadiran menteri BUMN kita, siapa lagi kalo bukan Pak Dahlan Iskan.
Di acara talkshow ini, mereka berpesan kepada para maba buat terus belajar, berkarya, dan berkontribusi buat ngemajuin negara tercinta kita ini.
Selain acara talkshow ada juga pengenalan tentang lembaga IKM UI kayak BEM, DPM, WMA, de el el. pokoknya acaranya seru banget deh.
Di akhir acara kita sebagai maba ditantangin untuk ngebentuk gambar logo OKK dari lilin menyala yang dikasih sama kakak-kakaknya. dan itu bener-bener suatu perjuangan, karena kita harus kompak dan saling kerja sama buat ngebentuk lambang OKK itu. Yah, walopun gue nggak berpartisipasi ikut ngebentuk itu lambang gara-gara kondisi badan yang nggak fit, tapi gue bener-bener bisa ngerasain perjuangan temen-temen maba buat ngebentuk itu lambang dalam waktu 10 menit pada kesempatan kedua, untuk kesempatan pertama kita gagal buat ngebentuk itu lambang. ini nih hasil kerja keras maba 2012. salut deh buat temen-temen semua :D


Yah, itu hanya sekelumit cerita dari rangkaian kegiatan OKK UI 2012. Semoga dengan acara ini, dapat membantu para maba buat ngejalanin kehidupan kampus di tahun-tahun berikutnya. Aamiin :D

About this blog

Total Pageviews

Powered by Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Followers

Let's Talk

Quelle heure est-il?

Most Viewed

Labels