Le Monde de Midi

Vouloir c'est Pouvoir

Pekat malam kembali menyudutkanku ke dalam sudut-sudut tumpul perasaan. Saat semua yang kuputuskan telah berjalan sesuai rencana, namun tiba-tiba rasa penyesalan itu muncul sebagai awal titik lemahku terkuak. Aku menyesali keputusanku yang secepat itu membuka lembar demi lembar perasaan yang sekian lama aku sembunyikan. Aku menyesalinya.

Ah, sudahlah. Tak ada gunanya lagi membicarakan sesuatu yang sudah telanjur dimuntahkan. Aku memang ceroboh. Aku memang bodoh. Secepat itukah aku menyerah menyembunyikan denting-denting rindu untuknya?


Di bawah temaram bulan yang bersinar malam ini, aku mencoba mengikhlaskan segalanya. Mencoba merelakan lembaran perasaan yang telanjur aku buka. Mungkin itu pilihan tepat yang memang Tuhan gariskan untukku. Dapatkah aku melakukannya?

Ah, lama tak bertemu. Apa kabar? Tak terasa setahun sudah terlewati. Kau masih seperti dulu, 'kan? Kau masih seperti kau yang terekam dalam memoriku, 'kan? Aku harap begitu. Semoga kau tak berubah. Dan jika berubah, semoga Allah menjadikanmu seseorang yang lebih baik dari sebelumnya.

Kau tahu? entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa ada sesuatu yang ganjil terjadi dalam hatiku saat teringat tentangmu. Tiba-tiba saja aku sedih ketika mengingatmu, terlebih saat melihat akun media sosial yang kau miliki. Padahal, biasanya aku tak seperti ini. Biasanya aku bisa menghadapi dan melewati perasaan seperti itu dengan senyum dan tertawa di akhir. Tapi sekarang, aku tak bisa melakukannya. Mengapa?

"Hati itu bagai sebuah balon, lalu rasa rindu itu bagaikan udara yang dimasukkan ke dalamnya. Pada saatnya, balon akan mencapai titik jenuhnya dan meledak. Begitu pun perasaan yang kau rasakan. Pada akhirnya akan memaksa keluar dan menjadikannya bulir yang mengalir dari kedua matamu. Tak apa-apa, itu manusiawi."

Begitulah perkataan temanku tadi malam saat aku bercerita padanya tentang perasaan yang tengah kurasakan. Ternyata berpura-pura kuat itu melelahkan, bahkan menyakitkan. Belajar sabar dan ikhlas itu sangat berat. Terkadang aku berpikir untuk melepasmu saja. Toh sampai sekarang, setelah kurang lebih tiga tahun menunggu, belum ada kepastian jelas tentang perasaanku ini. Perlu digarisbawahi, hal yang kurasakan ini, aku sadar bahwa ini bukan sebuah harapan palsu atau yang sekarang lebih tren dengan istilah PHP. Bukan. Ini bukan PHP. Aku tak pernah tahu kau memang memberi harapan itu atau tidak. Aku tak pernah tahu itu. Mungkin memang hanya aku yang melebih-lebihkan segala apa yang kau lakukan itu ditujukan kepadaku. Yah, mungkin demikian. Aku yang terlalu berharap. Tapi, ah, perasaan orang siapa yang tahu? Mungkin juga akan terjadi hal sebaliknya, bukan? Ya, kembali ke permasalahanku sebelumnya. Terkadang aku berpikir untuk melepasmu saja. Tapi bersamaan dengan itu, sisi hatiku yang lain terus menolak untuk melepasmu. Sudah hampir tiga tahun. Terlalu sayang jika dilepas begitu saja. Aku pernah membaca suatu kalimat

Jika kau menunggu seseorang yang kau cintai dengan tulus dan sabar, maka suatu saat, entah kapan waktunya, Tuhan pasti akan mempertemukan kalian.

Benarkah kalimat itu? Terkadang aku pun ragu dengan kalimat semacam itu, walaupun di sisi lain aku tetap menggunakan kalimat tersebut untuk menguatkan hatiku. Aku akan menunggumu. Aku akan belajar tulus dan sabar untuk menunggumu.

Semoga suatu saat kelak, entah kapan waktunya, kita dapat bertemu kembali. Saling bertegur sapa, saling tersenyum, saling berjabat erat, bertukar cerita. Dan semoga saat bertemu kelak, kita dipertemukan dalam keadaan yang lebih baik dari pertemuan sebelumnya. Semoga kita dapat saling mengisi hal-hal baik untuk menjalani hidup. Saling menasihati dalam setiap hal kebaikan dan kesabaran serta saling mengingatkan jikalau diantara kita melakukan suatu kesalahan.

Itu doaku pada Tuhan. Semoga kau yang di sana juga demikian.

Depok, 8 Juli 2013

"Ya, kalau mau jujur jadi berasa. Tata bahasa yang merujuk ejaan yang disempurnakan seolah terpinggirkan. Dan orang muda atau anak-anak sekarang lebih memilih bahasa alay karena dianggap lebih keren, asyik, singkat, dan memudahkan proses komunikasi mereka." (Samuel Mulia - Penulis Kolom KOMPAS)



Alay? Boleh -boleh saja, kok. Itu merupakan salah satu fase kehidupan. Saya pun pernah alay. Tapi tak sadarkah kalian? Penggunaan bahasa alay seperti ini bisa merusak tata ejaan yang disempurnakan dalam Bahasa Indonesia. Saya melihat fakta bahwa, akhir-akhir ini banyak sekali generasi muda yang tidak sepenuhnya mengerti bagaimana tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengapa? Karena mereka memilih bahasa alay untuk digunakan dalam komunikasi sehari-hari karena dirasa lebih simpel, dan mudah dipahami dibanding menggunakan Bahasa Indonesia yang baik. Jujur saja, saya pun kadang melakukannya. Tapi setidaknya saya terus berusaha untuk meminimalisir penggunaan bahasa alay tersebut. Mengapa? Karena dalam belajar, saya membutuhkan penggunaan Bahasa* yang baik untuk memahami subjek yang saya pelajari.

Bagi kalian yang menganggap bahasa alay adalah gaul, mohon maaf saja, menurut saya tidak. Karena bagi saya, bahasa alay dapat merusak kebanggaan saya sebagai Bangsa Indonesia.

Lihat saja, di luar sana banyak sekali warga negara lain yang mempunyai semangat tinggi untuk mempelajari Bahasa. Sedangkan kita, sebagai pemilik Bahasa itu sendiri, apakah kita sudah mempelajarinya dengan baik?

Ayolah kawan, mulai sekarang cobalah pelajari Bahasa kebanggaan kita dengan benar. Tak malukah kalian dengan bangsa lain yang dengan bangga tetap menggunakan bahasa mereka dengan baik? Apakah kalian akan tetap menggunakan bahasa alay untuk berkomunikasi dengan orang asing yang baru belajar Bahasa? Tentunya tidak, bukan? Karena mereka hanya mempelajari Bahasa dengan tatanan yang baik dan benar, bukan bahasa alay. :)

Satu lagi, penulisan dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar lebih enak dibaca daripada penulisan dalam bahasa alay, bukan? Dan tentunya tidak membuat yang membaca sakit mata dan berpikir dua kali untuk bisa membaca dan mengerti arti tulisan tersebut. :)


*Bahasa: kata yang sering dipakai untuk menggantikan penyebutan Bahasa Indonesia.

This article is my essay task to complete my English subject in college. I don't know it is good or not but I hope this article may help you if you have a writing task :)


Sex Education in School
There are many people who talk about sex. Students are the one of them all. But as we know, there are so many students who still misunderstand about the definition of sex. We need some ways to make the students can understand about sex. Sex education in school is one of some ways to resolve this problem. It helps the students to understand what the sex is. Not only about the definition of sex, but they also know about some phenomenon around the sexual life like sexual disorder and their negatives.

There are so many definitions about sex. According to Oxford Dictionary, sex is either of the two main categories (male and female) into which humans and most other living things are divided on the basis of their reproductive functions. The other say that sex is the sum of the structural and functional differences by which the male and female are distinguished on the phenomena on behavior dependent on these differences. Besides that, sex is also definite as the instinct on attraction drawing one sex toward another, or its manifestation in life and conduct.

In our life, there are some sex phenomenon like sexual disorder. Sexual disorder is a condition where someone has differences with others in their sexual life. One of examples of sexual disorder is homosexual. Homosexual is a condition where people do not have any interest with someone in different gender, they might like someone with the same gender as them. Homosexual is categorized in two, gay for the men and lesbian for the women. Homosexual happens from many causes. For example, it comes from family circumstance. Family is the first environment for people to start their life. If there is an unresolved problem in a family life, it could cause the members get frustrate and they would change their life style, for example become homosexual.

This sexual disorder causes many negative effects for people who have it. Many people who have sexual disorder are underestimated by others. The other negative effects are the family members of people who have sexual disorder feel ashamed because of them. They will also get difficulty in their social life because the others’ underestimate.

Sex education in school is really important to do. It helps to show up what the sex is. So the students can really understand about sex and their negatives.


Haloooo....
Saya ada sedikit cerita pas liburan tanggal 9 Mei kemarin nih kawan. Waktu liburan tersebut saya gunakan untuk pergi ke Kota Tua bersama kawan-kawan satu kontrakan saya. Mereka ada Mirna, Rosy dan Rizka. Kami berempat bertolak dari Depok sekitar pukul 10.00 menggunakan KRL dari Stasiun UI menuju Stasiun Jakarta Kota. Kami cukup menggunakan satu KRL saja untuk sampai di kawasan Kota Tua. Nah, dari Stasiun Kota, kami cukup berjalan kaki selama beberapa saat untuk sampai di kawasan Kota Tua tersebut.


Sedikit sejarah tentang Kota Tua nih...
Kawasan Kota Tua adalah sebuah wilayah kecil yang terdapat di Jakarta. Kawasan Kota Tua ini melintasi Jakarta Pusat dan Jakarta Barat dengan luas wilayah 1,3 km persegi. Dulunya, kawasan KoTu ini dijadikan sebagai pusat pemerintahan oleh pemerintah Kolonial Belanda di Batavia atau yang sekarang disebut Jakarta.

Museum Fatahillah, salah satu bagunan di kawasan KoTu
Di kawasan tersebut terdapat beberapa museum seperti Museum BI, Museum Bank Mandiri, Museum Wayang, Museum Fatahillah dan beberapa bangunan lain seperti Kantor Pos dan sebagainya. Sayangnya, saat saya dan kawan-kawan berkunjung ke sana, museum-museum tersebut sedang tutup. Mungkin karena hari tersebut merupakan hari libur nasional, jadi museum-museum yang ada di kawasan KoTu tersebut tidak beroperasi.

Walaupun kami tak berkesempatan untuk mengunjungi meseum-museum yang ada, tapi kami tetap bisa menikmati suasana KoTu yang masih terasa kuno. Saat mengunjungi kawasan ini, kami merasa kembali ke jaman pemerintahan kolonial karena gedung-gedung yang ada di sana masih benar-benar asli peninggalan Belanda. Selain itu, jika ingin berkeliling kawasan KoTu juga disediakan penyewaan sepeda onthel untuk para pengunjung yang tentu saja akan menambah kesan klasik kunjungan di Kota Tua. Sayangnya kami tak menggunakan fasilitas tersebut karena suasana saat itu benar-benar ramai, dan bersepeda di kondisi ramai seperti itu membuat kami tidak nyaman. Karena kami hanya berjalan kaki untuk berkeliling kawasan Kota Tua, jadi tak semua kawasan kami kunjungi. Selain kondisi saat itu yang sangat terik, kawasan Kota Tua juga cukup luas untuk dijelajahi dengan hanya berjalan kaki.

Rosy di depan Museum Wayang
Fasilitas penyewaan sepeda onthel
Setelah puas berkeliling kami kembali ke spot awal, yakni pelataran Museum Fatahillah. Di pelataran Museum ini kita bisa menikmati berbagai pertunjukan yang dilakukan oleh komunitas seni yang ada di kawasan Kota Tua tersebut. Selain dapat menikmati pertunjukan yang tersedia, kita juga dapat berfoto dengan berbagai jenis patung yang diperagakan oleh manusia
.
Saya bersama manusia patung nelayan
Jika kalian sudah puas berkeliling kawasan KoTu, bisa mampir ke sebuah kafe yakni Cafe Batavia untuk mengisi ulang energi yang sudah terkuras. Sayangnya, harga  makanan di sini lumayan tinggi. Namun kata kawan-kawan yang sudah pernah menikmati hidangan di sana, rasa hidangan yang tersedia sesuai dengan nilai yang dibayarkan. Saat itu, kami berempat tidak mampir ke kafe tersebut karena sudah membawa bekal dari rumah untuk menghemat ongkos. Maklum sajalah namanya juga masih pelajar :D

Rizka di depan Cafe Batavia
Setelah menghabiskan santap siang, kami berempat melanjutkan acara foto-foto di kawasan Kota Tua. Yuk, tengok beberapa photoshootsnya *cekidot*

















Nah, itulah sekelumit cerita tentang perjalanan saya ngebolang bersama kawan-kawan satu kontrakan. Rencananya kalo pas ada libur, kami mau melancong ke Kawah Putih di daerah Bandung niiih. Doakan saja yaa ^^

Hai, lama tak sua pemirsaah...*lambaikan tangan*
Bagaimana? Kangenkah dengan sayaa? hahaa
Saya sebenarnya punya banyak cerita, tapi bingung mau ceritain yang mana -_- yang jelas sebentar lagi *tepatnya seminggu lagi* saya bakal ada UAS semester II. Tinggal seminggu lagi pemirsa, tapi saya belum menyiapkan apapun. Iya, nothing has been prepared yet -_- Yasudah itu urusan saya nanti, kita pindah ke lain topik dulu yuuk..

Selama tiga minggu berlalu, saya dan teman-teman angkatan baru di Racana Kalpavriksha UI mengikuti GCD a.k.a Galang Citra Diri sebagai salah satu syarat untuk menjadi warga Racana UI. Kegiatannya seru, lumayan asyik laah. Jadi bisa tambah deket sama temen-temen baru sekaligus kakak-kakak di Pramuka :D Pas kegiatan GCD, kita sebagai anak baru dikasih materi tentang kepramukaan dari awal sampe akhir. Kegiatan favorit saya pas GCD itu pas Day-2 tali temali. Itu kegiatan asyik dan seru banget. Jadi keinget kegiatan Pramuka pas di SMA dulu u,u *galau* Sebenernya GCD itu kegiatannya berlangsung selama empat minggu alias satu bulan. Yang tiga minggu udah kelaksana. Nah, untuk minggu terkahir, kita disuruh nampilin display sama Kakaknya. Kita masih bingung mau buat apa. Rencana sih mau bikin video, tapi anak-anaknya aja susah banget diajak ngumpul jadinya kita batalin deh itu project. Dan sampe sekarang belum nemu penggantinya mau bikin apa. Padahal besok Rabu udah disuruh tampil -_- *eotteohke??*

Daripada kebawa pusing sama urusan GCD saya, mending saya ajak kalian ke cerita selanjutnya yuuk *cekidot*

Kemarin *saya lupa kapan* pas saya buka-buka akun tweetnya dia saya nemu kata-kata ini pemirsaah

Bacanya dari bawah ke atas yaaa :p
Nah, dari kata-kata itu saya jadi pengin buat cerpen lagi. Tokohnya sih tetep dia. Ceritanya udah kebayang di kepala, tapi belum bisa nuangin ke kertasnya. Masih belum sempet, belum ada waktunya. Mungkin besok setelah UAS selesai. Eh iya, ngomong-ngomong soal cerpen, saya sebenernya udah nyelesaiin cerpen baru lagi.Tapi kayaknya belum mau saya posting. Itu isinya frontal banget pemirsaah, saya masih takut :p Selain itu, isinya juga panjang banget, sebelas halaman meeeen. Mungkin kapan-kapan akan saya post di sini biar pemirsa ga penasaran :P

Oya, jangan bosen dulu baca postingan saya yang ini. Masih banyak cerita lain niiihh..

Kemarin pas liburan tanggal sembilan, saya dan kawan-kawan kontrakan jalan-jalan ke Kota Tua lhoooh. Di sana keren banget ternyata. Oh iya, saya lupa cerita kalau saya sekarang sudah ga di asrama lagi. Sudah pindah ke kontrakan semenjak akhir Maret lalu. Awalnya sedih siih karena harus ninggalin kamar 24 yang udah saya diami selama hampir setahun, huhuuu T.T Yasudah itu sudah terjadi, kita terusin cerita di Kota Tuanya aja yaa...
Buat ke Kota Tua, saya dan kawan-kawan cuma naik kereta sekali dari Depok - Jakarta Kota. Nah dari stasiun Kota cuma jalan sekitar satu kiloan laah buat sampe ke kawasan Kota Tuanya. Di Kota Tua, saya kagum pemirsa karena bangunan di sana masih benar-benar bangunan peninggalan pemerintah kolonial Belanda. Beberapa gedung masih terawat dengan baik, namun beberapa lainnya sudah tak terawat malah ada bangunan yang dibiarkan roboh tanpa terenovasi. Miris sih ngeliatnya. Pemerintah harusnya ngadain relokasi dan konservasi buat bangunan bersejarah semacam itu. Selain sebagai tempat wisata, bangunan-bangunan peninggalan jaman dulu kan juga bisa dijadikan sebagai sarana pendidikan buat pelajar kita. Selain banyak bangunan yang kurang terawat, lagi-lagi masalah kecil tapi besar di negara ini adalah budaya membuang sampah yang masih belum pada tempatnya. Hal tersebut juga bisa dilihat di sekitar kompleks Kota Tua. Banyak sampah masih berserakan. Terutama di dalam kolam yang ada di depan Museum Fatahillah. Di situ banyak sampah plastik yang mengambang. Padahal kalo kolam itu terawat dengan baik, bisa dijadiin tempat buat melihara ikan yang bisa jadi tambahan untuk menghias taman. Sayang sekali, kawasan sebagus itu namun untuk hal teknis semacam perawatan belum terealisasi dengan baik :(
Nah selepas puas keliling dan foto-foto di kawasan KoTu, akhirnya saya dan kawan ngebolang saya balik lagi ke Depok dengan KRL sekitar pukul setengah empat sore dengan rasa capek yang sangat tapi seneng karena akhirnya bisa jalan-jalan keluar Depok :D

Nah ini beberapa foto pas di Kota Tua









Nah, sekian dulu cerita dari saya pemirsa. Kita sambung lagi di lain kesempatan, 안녕 :)


Bonsoir :)
Hari ini saya dapat pengalaman seru banget nih! :D
Setelah menjalani wawancara pada hari Kamis kemarin, hari ini saya mendapat orientasi atau pengenalan tentang Racana Narastri Kalpavriksha, yaitu pramuka di universitas saya. Tepat pukul 11.00 acara ini dilaksanakan. Acara ini diisi oleh tiga narasumber, yaitu Kak Fauzi, Kak Bambang dan Kak Aria. Materi yang disampaikan mereka sangat berguna untuk pembekalan awal menjadi anggota Racana Kalpavriksha ini.

Lambang Racana Narastri Kalpavriksha
Orientasi ini berakhir pukul 13.30. Kemudian dilanjutkan istirahat sejenak untuk makan siang dan melaksanakan ibadah. Setelah itu, tibalah di acara puncak yaitu pelantikan sekaligus pengukuhan sebagai anggota Racana Kalpavriksha Universitas Indonesia. Upacara pengukuhan ini berlangsung dengan khidmat walaupun anggota di Racana kami masih belum terlalu banyak.

Pada upacara ini, saya teringat masa-masa saat masih menjadi Dewan Penegak di SMA dulu. Akhirnya saya dapat kembali merasakan suasana Pramuka setelah kurang lebih vakum selama satu tahun :) Harapan saya di Kalpavriksha ini adalah semoga saya bisa berkontribusi dan menyumbangkan ide-ide yang bermanfaat dan berguna bagi Racana ini dan semoga juga dapat berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara. Aamiin.

Nah, selesai pulang dari pelantikan dan pengukuhan anggota Racana Kalpavriksha, saya masih mengikuti acara paguyuban KOMPOR UI. Walaupun datang telat, saya masih bisa menikmati kebersamaan dengan teman-teman dari Purworejo yang kuliah di UI :)

Sekian dulu dari saya. Kita sambung lagi lain waktu. Annyeong... :)

Bonsoir mes amis :) Comment allez-vous?

I have many stories to tell for you all guys :D

Hari ini saya baru ada wawancara OPREC Racana Narastri Kalpavriksha. Itu adalah nama organisasi Pramuka yang ada di universitas saya. Saya akhirnya dapat melewati wawancara dengan lancar. Ternyata kakak-kakak di Racana Kalpavriksha asyik-asyik banget. Tadi aja sehabis wawancara kita malah sharing-sharing pengalaman dan harapan-harapan untuk pramuka ke depannya mau digimanain. Pokoknya asyik bin seru banget deh! Ga sabar buat nunggu Orientasi Kepramukaan 23 Maret 2013 besok. Semoga aja acaranya bakalan asyik, Aamiin.

Cerita lain alias another storynya adalah selama empat hari berlalu, saya mengikuti sebuah acara yang disebut pekan Francophonie. Pekan Francophonie ini adalah semacam festival atau acara yang diadain sama negara-negara Francophone yang ada di dunia. Negara Francophone itu sendiri adalah negara yang menggunakan bahasa Prancis sebagai salah satu bahasa yang sering digunakan di negara itu sendiri.

Nah, untuk pekan Francophonie di Indonesia sendiri diadain sama Kedutaan Besar Kanada sebagai panitia penyelenggara yang bekerja sama dengan Kedutaan besar Swiss, Belgia. Prancis, dan Tunisia. Dan kebetulan yang menjadi tuan rumah adalah Program Studi Prancis universitas saya dan tepatnya di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

Acaranya asyik banget. Ada seminar tentang Hak Asasi Manusia yang membahas kebebasan beragama di Prancis dan di Indonesia. Dan saya dapet sertifikat dari seminar itu, dan ga ketinggalan free snack juga, hehehe :p Selain itu ada lomba pidato berbahasa Prancis. Kalau ini saya ga ikutan soalnya masih pemula jadi masih rada takut gitu deeh. Wah, dan yang ikutan lomba ini keren-keren banget isi pidatonya *walopun sebenarnya ga begitu ngerti isinya siih :p* Tapi lumayan laah buat nambah pengalaman. Siapa tahu tahun depan bisa ikutan, Aamiin :)

Selain itu kita juga ada acara nonton film bareng. Filmnya itu dari Prancis, Kanada, Belgia, Swiss, dan Tunisia. Semua pake bahasa Prancis, tapi tetep pake subtitle bahasa Inggris. Jadi kita tahu dan ngerti isinya itu film apaan.

Pekan Francophonie ini berakhir tadi. Dan di penutupan diumumin pemenang pidato bahasa Prancis, dan yang menang adalah senior saya angkatan 2011. Pidatonya dia emang keren banget, isinya kompleks, menarik. Ah pokoknya keren banget deh! Ga salah kalau dia jadi juara.

Harapan saya, semoga saya bisa berpartisipasi di lomba yang ada di pekan Francophonie tahun depan. Selain nambah pengalaman, lumayan laah seenggaknya bisa ngomong dan salaman atau mungkin foto bareng bule yang cantik dan ganteng-ganteng itu, hahaha :D

PS : Perwakilan dari Kedubes Swiss dan Belgianya ganteng lhoooh :P

Sekian cerita dari saya, kita sambung lagi di lain kesempatan dan kalo saya punya cerita lagi...
À bientôt :)

Hai hai, kembali lagi bersama saya. Sudah sebulan ga update nih, maklum sibuk. ^^
Oiya, saya punya kabar gembira nih buat kalian semua. Akhirnya buku antologi 25 cerpen terbaik dari lomba cerpen yang diadain sama Penerbit Tangga Pustaka sudah nyampe di tangan saya :D *jingkrakjingkrak*
Berikut fotonya *cekidot*

22 Kisah Terbaik (termasuk cerpen saya) :)

Cover Buku
Bagian Cerpen Saya


Selain itu, saya juga dapet sertifikat lhoooo :D
Sertifikat

Nah, selain itu saya juga punya cerita lain. Kemarin saya baru daftar OPREC alias open recruitment kepengurusan paguyuban KOMPOR UI dan saya ketrima jadi staff bidang minat dan bakat :) Di minat bakat ini saya ngurusin bidang Creative Writing Post alias bidang tulis menulis. Jadi peran saya disini adalah penyeleksi naskah-naskah berupa puisi atau cerpen ataupun naskah prosa lainnya karya anak-anak KOMPOR UI untuk di posting di group dan website KOMPOR. Dalam pekerjaan ini saya dibantu oleh rekan saya yaitu Rizka Nurfajri.

Organisasi lain yang saya ikuti mulai semester dua ini adalah MOTIF alias Motivator Kreatif di fakultas saya. Di MOTIF ini saya diajari bagaimana membuka wirausaha dan teknik-teknik membuat kerajinan tangan seperti dari flanel atau pun kain perca. Selain itu, disini saya pun mendapat motivasi-motivasi untuk bisa hidup mandiri dan berwirausaha. Seneng deh pokoknya :D

Minggu ini saya baru mendaftar organisasi Kepramukaan di UI yaitu Racana Kalpavriksha. Saya sedang menunggu wawancara di tanggal 20-22 Maret besok. Semoga pas wawancara saya dapat melaluinya dengan lancar dan pada akhirnya dapat kembali menjadi anggota Pramuka setelah vakum kurang lebih satu tahun dari kegiatan pramuka di SMA saya dulu.

Hari ini saya baru menjalani seminar pelatihan untuk mahasiswa penerima program Bidik Misi yang bertema "Mengasah Kemampuan Adaptasi untuk Kembangkan Potensi". Dari seminar ini, saya mendapatkan hal-hal yang sangat bermanfaat untuk kehidupan saya di masa kini maupun masa mendatang. Saya juga semakin termotivasi untuk mewujudkan impian-impian saya demi kemajuan bangsa kita tercinta.

"Hope is a dream that doesn't sleep. So, don't stop hoping and then you can raise your dreams"

Sekian dulu cuap-cuap dari saya, kita sambung di lain kesempatan yaaa...
See you soon, muah :*

Bonjour,
Hai hai hai, udah lama banget nih gak posting di blog, sempet mati suri dari kemarin-kemarin ^^
Semester pertama kuliah udah lewat dari Desember yang lalu dan saya rada kecewa karena IP yang didapat gak sesuai harapan. Cuma dapet 3,49, padahal kurang 0,02 lagi cumlaude. Nyesek banget gak tuh? -_-

Hasil belajar saya selama satu semester











Sekarang udah masuk semester 2 dan udah mulai kuliah. Gila, ternyata ngambil 21 SKS aja capek banget, gimana kalo ngambil SKS full 24? gak bisa ngebayangin deh capeknya kaya apa.

 Jadwal kuliah semester 2












Bandingkan dengan jadwal kuliah semester 1

Jadwal kuliah semester 1












Bisa membayangkan bagaimana capeknya semester 2 ini? Masuk jam 8 pulang jam 16 hampir setiap hari. Beda banget sama pas di semester 1 yang jarang banget pulang sore.

Oh iya, Desember kemarin saya sempat ikut lomba cerpen yang diadain Penerbit Tangga Pustaka dan cerpen saya yang berjudul My Last Autumn With You masuk sebagai 22 terbaik lhoo :D Walaupun gak dapet juara, tapi lumayan lah bagi penulis pemula kayak saya udah bisa tembus 22 terbaik dari ratusan cerpen yang ikut lomba. Nah dari lomba itu, saya dapet dua eksemplar buku antologi 25 Cerpen terbaik yang kepilih buat diterbitin termasuk cerpen saya itu :D

22 Terbaik

Cover Buku
Mungkin itu dulu yaa cerita dari saya, disambung lagi lain kali. Annyeong ^^


Aku masih menggenggam cangkir kopiku erat. Aroma kopi tercium jelas dari asapnya yang masih mengepul. Namun aku lebih memilih untuk menatap butiran salju yang turun dari langit daripada mencicipi rasanya. Ingatanku melayang ke pertengahan musim gugur dua bulan lalu. Saat daun-daun maple mulai meninggalkan dahannya, aku memulai masa-masa sulitku.
“Maafkan aku,” katamu saat kita berjalan bersama di boulevard dekat kampus.
“Maaf? Untuk apa?” aku tak mengerti maksud ucapanmu. Aku tak merasa kau bersalah padaku. Lalu apa gunanya minta maaf?
“Untuk segalanya,” jawabmu sambil mengalihkan pandanganmu menatap guguran daun maple yang berserakan di jalan.
“Maksudmu?” aku semakin tak mengerti maksud pembicaraanmu. Saat itu,kau tidak segera menjawab. Kau terus saja berjalan di sisiku sambil terus memperhatikan guguran daun yang terserak di jalan. Kau masih saja diam. Aku membiarkannya. Aku tak ingin mendengarkan penjelasanmu. Aku terlalu takut untuk mendengarnya.
“Maaf karena aku telah masuk ke kehidupanmu,” kau akhirnya menjawabnya. Aku terhenyak, semakin tak mengerti maksud ucapanmu. Aku menghentikan langkahku dan duduk di kursi yang tersedia di pinggir jalan. Aku benar-benar tak mengerti maksud perkataanmu.
“Kau sama sekali tak bersalah, kenapa harus minta maaf?” tanyaku pelan. Kau menghentikan langkah pelanmu dan berbalik menuju tempatku terduduk lesu. Setelah berdiri untuk beberapa saat, kau mengambil tempat duduk di sebelahku.
“Kau lihat daun yang berguguran itu?” kau bertanya seraya melayangkan pandangan kosong ke arah daun-daun yang melayang di udara.
“Kenapa dengan daun itu?” aku semakin tak mengerti arah pembicaraanmu.
“Aku akan seperti mereka,” kau menjawabnya dengan suara yang begitu pelan, berharap hembusan angin akan mengalahkan suaramu. Aku bergeming untuk beberapa saat. Aku lalu tersadar akan keadaanmu saat ini. Aku tertunduk lesu, terdiam untuk waktu yang cukup lama.
“Kau pasti bisa melaluinya, chèrie. Kau pasti bisa,” aku mencoba memberikan semangat kepadamu walaupun aku sendiri ragu dengan kalimat yang baru saja aku katakan.
“Tidak semudah itu aku dapat melaluinya,” kau masih menatap dedaunan yang gugur dengan pandangan kosong.
“Aku akan mendampingimu. Aku akan selalu mendampingimu untuk melaluinya,” kataku mantap.
“Tidak. Kau tidak akan bisa. Tidak akan mampu,” kau terdiam sejenak. “Kau juga butuh hidupmu, tak selamanya kau akan selalu di sampingku. Sudah terlalu lama. Kau butuh kehidupanmu sendiri.”
Aku terdiam mendengar ucapanmu. “Tapi ak--”.
“Mulai sekarang, cobalah untuk melepasku dengan perlahan,” kau tertunduk setelah mengatakannya. Aku melihat air mata menggenang di pelupuk matamu saat kau mengatakan kalimat itu.
***
Aku masih menggenggam cangkir kopiku. Kepulan asapnya sudah mulai menghilang. Aku menyeruput kopiku sedikit, menikmati rasanya hingga ia melewati tenggorokanku dan akhirnya masuk ke lambungku. Hangat. Tapi kehangatan kopi itu tak sehangat perasaanku. Sepertinya dingin dan bekunya salju lebih tepat untuk menggambarkan perasaanku.
Andai saja kau masih disini untuk sekadar menemaniku menikmati kopi di café ini, mungkin perasaanku akan berbeda. Namun kenyataannya kau sudah tidak ada disini. Kau sudah pergi dengan membawa serta asaku. Kita sudah terlalu lama bersama-sama sehingga hidup tanpamu terasa tak berguna untukku.
Bel café itu berdenting nyaring, pertanda ada pengunjung yang membuka pintunya. Ucapan selamat datang terdengar ramah dari pemilik café terhadap pengunjung yang baru datang itu. Aku menoleh ke arah pintu sejenak untuk melihat pengunjung yang datang. Ternyata sepasang kekasih. Aku kembali teringat akan kenangan kita saat pertama kali datang ke café ini. Aku tak begitu suka saat kau mengajakku kesini. Aku tak terlalu suka untuk pergi ke tempat-tempat seperti ini. Namun kau mnegubah itu semua. Kau membuatku menyukai tempat ini dan akhirnya menjadikannya tempat favorit kita berdua.
“Kau sudah menunggu lama? Maaf, aku baru saja bertemu profesor untuk mendiskusikan tugas akhirku,” katamu waktu itu, sambil tergesa meletakkan diktat-diktat tebal yang kau bawa ke atas meja sebelum akhirnya kau duduk di kursimu. Aku hanya terdiam, kemudian mengalihkan pandanganku ke luar jendela.
“Kau marah padaku?” kau bertanya dengan nada takut padaku. Aku masih terdiam. Mana mungkin aku marah padamu? Setiap menatap mata hazelmu, aku tak dapat melakukan apapun. Jadi, mana mungkin aku bisa marah padamu?
Aku mengalihkan pandanganku dan menatap wajahmu. “Aku tidak marah sama sekali,” kataku kemudian. Senyum merekah di wajahmu, membuatku mau tak mau juga ikut tersenyum. “Kau terlihat begitu lelah,” kataku setelah beberapa saat memperhatikanmu.
“Oh, mungkin karena aku baru saja berlari kesini,” jawabmu sambil menyeka peluh yang keluar dari dahimu. “Dan mungkin juga karena bawaanku yang cukup berat,” tambahmu. Aku melirik ke atas meja dan memperhatikan diktat-diktat yang kau bawa, Kau pasti sangat keberatan membawa itu semua.
“Seharusnya kau tidak perlu berlari, cukup berjalan saja. Kau pasti sangat kelelahan membawa diktat tebal itu sambil berlari.”
“Aku tidak mau kau menunggu terlalu lama. Jadi aku harus berlari untuk kesini,” jawabmu masih dengan terseyum. Aku tertegun. Sebegitupedulikah kau terhadapku? Sehingga kau tak memedulikan hal yang lebih mengerikan yang akan terjadi kepadamu?
“Kau tak perlu melakukannya lagi. Kau tahu kan itu dapat membahayakan dirimu?” kataku dengan sedikit nada marah dalam suaraku.
“Maaf,” hanya itu yang kau katakan sebelum akhirnya menundukkan kepalamu.
***
Salju turun semakin deras ketika aku menilik isi cangkirku yang tinggal separuh. Aku masih melayangkan pikiranku untuk mengingat semua kenangan tentang dirimu. Segala tentangmu memang sudah terlalu lekat di ingatanku. Sejak kecil hingga kau akhirnya pergi meninggalkanku lebih dulu, kita selalu bersama-sama. Tidak. Aku salah. Aku tidak bersamamu ketika kau menghembuskan napas terakhirmu. Aku tidak menemanimu ketika kau berjuang untuk tak meninggalkan dunia ini selamanya. Aku minta maaf untuk itu. Aku sangat menyesal karena tak bisa menemanimu di akhir hidupmu, di akhir musim gugur kesukaanmu.
Bel café itu berdenting lagi. Aku menoleh untuk melihat siapa yang datang. Seorang lelaki paruh baya memasuki café. Ia segera memesan sesuatu dan langsung mencari tempat kosong untuk duduk. Dia membuka laptopnya dan menatap layarnya dengan dahi berkerut. Aku mengamatinya sejenak. Dari caranya menatap layar laptopnya itu, sepertinya ia sedang banyak pekerjaan.
Aku mengalihkan pandanganku untuk kembali menatap ke luar jendela. Butiran salju yang turun sudah tidak terlalu deras. Aku menatap isi cangkirku sejenak, kemudian meneguk habis seluruh isinya. Aku beranjak dari tempat dudukku dan menuju kasir untuk membayar kopiku. Setelah mengucapkan terima kasih, aku melangkahkan kakiku menuju pintu keluar. Aku membuka pintu café itu sehingga bel yang tergantung di atasnya kembali berdenting. Aku berhenti sejenak, menikmati dentingan bel pintu itu sebelum akhirnya benar-benar melangkahkan kakiku keluar café.
Aku membalikkan badanku menatap café itu setelah sampai di luar. Aku mengamati bangunan itu untuk yang terakhir kali. Aku sudah berjanji bahwa ini kali terakhirku mengunjungi tempat itu. Aku tak akan mengunjunginya lagi karena tempat itu terlalu penuh dengan kenangan tentangmu. Biarkan kenangan tentang kita tersimpan rapi di bangunan itu tanpa perlu aku datang lagi untuk mengusiknya.
Aku berjalan gontai meninggalkan tempat itu. Salju kembali turun dengan deras. Kali ini lebih deras dari sebelumnya. Aku melangkahkan kakiku semakin pelan, merasakan tubuhku yang sudah mulai lelah untuk berjalan. Aku duduk di kursi yang dulu menjadi saksi ucapan perpisahanmu kepadaku. Aku menatap pohon yang ditinggalkan daunnya berguguran. Kini pohon itu terselimuti salju tebal di setiap rantingnya. Aku kembali teringat akan peristiwa di akhir musim gugur lalu. Peristiwa yang membuat semangat hidupku benar-benar terenggut. Aku tertunduk dalam. “Di musim gugur berikutnya, mungkin aku sudah kembali berada di sisimu.” Aku tersenyum setelah mengatakannya. Aku bangkit dari dudukku dan kembali meneruskan langkahku. Aku semakin pelan melangkahkan kakiku hingga kemudian aku jatuh terduduk di atas tumpukan salju. Setelah itu, aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada diriku.
-FIN-

Depok, 4 November 2012 at 07.30 PM
ajengmidi



Semilir angin mengibarkan rambut panjangnya. Ia masih duduk termenung memandang langit. Sedari tadi, aku sudah memerhatikannya dari tempatku berdiri sekarang. “Dia cantik,” gumamku lirih. Entah sejak kapan aku mulai menyukainya. Yang pasti, setiap pulang sekolah aku selalu menunggunya di gerbang sekolah, dan secara diam-diam mengikutinya ke tempat ini, sebuah padang rumput di dekat bukit. Aku selalu memerhatikannya dari atas sini, di bawah pohon rindang di tepi jalan setapak menuju padang rumput itu. Aku tak berani turun untuk menemuinya. Hanya memerhatikannya saja, itu sudah cukup bagiku.
***
Waktu bergulir begitu cepat. Ternyata sudah satu tahun aku menyimpan sendiri perasaanku. Aku ingin menyampaikan padanya, tapi bagaimana mungkin? Aku terlalu pengecut dalam hal ini. Walaupun sudah kukumpulkan keberanian untuk mengatakan padanya, aku tetap tak mampu melakukannya. Dan keadaan ini diperparah dengan hadirnya orang lain di dekatnya. Yah, dia sudah memiliki seseorang sekarang. Aku memang sedikit terlambat. Bukan hanya sedikit, aku memang benar-benar terlambat untuk menyampaikan perasaanku kepadanya. Akan tetapi, hal tersebut tak mengubah kebiasaanku. Aku masih secara diam-diam mengikutinya pergi ke padang rumput sepulang sekolah. Aku masih tetap pada tempatku, di bawah pohon rindang di tepi jalan setapak. Dan aku merasa lega karena ia tak pernah membawa teman laki-lakinya itu ke tempat ini. Akhirnya aku menganggap bahwa tempat ini merupakan tempat favorit kami berdua. Mungkin hanya aku yang menganggap demikian. Bahkan dia pun tak tahu kalau aku selalu mengikutnya ke tempat ini. Jadi mana mungkin dia menganggap bahwa tempat ini merupakan favorit kami berdua, kan?
***
Aku termenung duduk di bangkuku. Berkali-kali kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah hampir jam delapan, kenapa dia belum juga muncul? Mungkinkah ia tak masuk hari ini? Tetapi kenapa? Bukankah ia baik-baik saja kemarin? Bahkan ia masih mengunjungi padang rumput di dekat bukit. Tidak mungkin ia sakit hari ini. Aku terus mencemaskannya  hingga bel masuk akhirnya berdering. “Ah, mungkin ia terlambat,” batinku, lebih untuk menenangkan diriku sendiri. Namun harapanku pupus setelah bel istirahat akhirnya berdering. Ia tak masuk hari ini. Tetapi kenapa? Aku terus memikirkannya hingga akhirnya jam sekolah usai.
Aku pulang dengan mengayuh sepedaku. Sebenarnya aku ingin langsung pulang. Namun entah kenapa aku berkeinginan untuk ke padang rumput dahulu. Aku berharap dapat menemukannya di sana. Namun segera kusergah pikiran itu. Hari ini saja ia tak masuk, jadi mana mungkin ia pergi ke padang rumput? Setelah mengayuh untuk beberapa lama, akhirnya aku sampai di tempat itu. Aku menuju tempatku biasa berada. Belum sempat aku duduk di sana, pandanganku menangkap seseorang di tempat biasanya ia berada. Seorang gadis menggunakan blouse berwarna biru muda sedang duduk di sana. Aku meyakinkan pandanganku dengan mengerjap-ngerjapkan mataku untuk beberapa saat. Namun, tetap saja gadis itu yang nampak di sana. “Kenapa ia di sini?” gumamku lirih. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sehingga aku tak menyadari ia sudah meninggalkan tempat dimana ia duduk. Dan sekarang ia berada di hadapanku. Ya, dia benar-benar di hadapanku. Jantungku tiba-tiba berdegup sangat cepat. Rasanya seperti ia akan meninggalkan rongga dadaku. Aku hanya memandangnya sebelum akhirnya tersenyum. Kaku.
“Kau juga sering ke sini?” ia membuka pertanyaan.
“Ehm, i..iya,” jawabku terbata-bata sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
“Sejak kapan?” tanyanya lagi.
Ya Tuhan, haruskah aku menjawab pertanyaannya yang satu ini? Bagaimana kalau dia curiga? Bagaimana jika dia akhirnya tahu bahwa selama setahun belakangan ini aku selalu membuntutinya ke tempat ini? “Eh.. sekitar satu tahun yang lalu,” jawabku jujur dengan menundukkan kepalaku. Malu.
“Aku tahu.”
“Eh?” aku mengangkat kepalaku. Terkejut dengan pernyataannya.
“Iya, aku mengetahuinya,” katanya penuh keyakinan.
“Te..tet..tapi bagaimana?” tanyaku gugup.
“Entahlah, tapi aku mengetahuinya. Kau selalu menungguku di gerbang sekolah dan secara diam-diam mengikutiku untuk pergi ke tempat ini. Dan di sinilah tempatmu selalu duduk untuk menungguiku sampai aku pulang,” jawabnya.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa tertunduk malu dan merasa bersalah karena tanpa sepengetahuannya, aku mengikuti gadis itu selama ini.
“Hei, kenapa kau menunduk?” tanyanya sambil memegang pundakku. Aku mengangkat kepalaku, dan senyum itu sedang terkembang. Ya Tuhan, baru kali ini aku melihatnya tersenyum selepas itu. Walaupun berada di kelas yang sama, aku belum pernah melihatnya tersenyum sekali pun. Ia memang anak yang sedikit tertutup. Aku terkadang heran, anak seperti dia bisa mendapatkan pacar. Padahal ia jarang sekali terlihat berkumpul dengan anak-anak lain. Walaupun begitu, toh aku tetap menyukainya.
“Maafkan aku,” jawabku setelah beberapa saat terdiam.
“Maaf? Untuk apa?” tanyanya heran.
“Karena aku telah mengikutimu secara diam-diam selama ini,” aku tertunduk lagi.
“Hei, kau tak bersalah. Jadi untuk apa meminta maaf? Aku juga tidak terganggu denganmu yang selalu mengikutiku ke tempat ini,” ia tersenyum lagi.
“Eh, terima kasih,” aku memandangnya. Tersenyum. “Kenapa kau tak masuk hari ini? Kau tidak sakit kan?” tanyaku dengan nada sedikit khawatir.
Dia tak langsung menjawab pertanyaanku. Ia mengambil posisi duduk di bawah pohon tempat kami berdiri. Aku mengikutinya dan duduk di sampingnya. Ia memandang ke arah padang rumput dengan pandangan yang sedikit kosong. Aku masih terus memerhatikannya, menunggu jawabannya.
“Aku sudah keluar dari sekolah,” katanya setelah terdiam beberapa lama dengan suara sepelan mungkin. Aku yakin, ia ingin menangis saat mengatakan hal itu. Suaranya terdengar tercekat di tenggorokan.
“Kenapa?” aku bertanya padanya. Juga dengan suara tak kalah pelan.
Ia terdiam lagi. Sepertinya ia sangat berat untuk mengatakan hal ini. Seperti ada sesuatu di tenggorokannya yang mencekat suaranya untuk keluar. Aku ikut terdiam. Lama kami melakukan hal tersebut. Hanya semilir angin dan suara gemerisik rerumputan yang terdengar di telingaku. Aku menatapnya sejenak. Ia masih memandangi langit sore yang berwarna jingga kemerahan. Pandangannya masih nampak kosong. Ia juga belum menjawab pertanyaanku. Sudah sekitar lima belas menit sejak aku mengajukan pertanyaan itu. Entah apa yang membuatnya seperti tak mau menjawab pertanyaanku.
“Sudahlah jika kau tak mau menjawabnya,” kataku kemudian.
“Tidak… A-aku harus pergi ke Melbourne,” jawabnya lemah. Ia tertunduk lesu. Sepertinya ia benar-benar ingin menangis kali ini.
“Melbourne? Kapan? Kenapa?” aku memberondongnya dengan pertanyaanku. Aku sangat terkejut dengan hal yang ia katakan. Ia tak segera menjawab. Kini isakan mulai terdengar dari mulutnya. Ia masih bungkam untuk menjawab. Mungkin dia belum ingin menjawabnya atau memang tak ingin menjawabnya? Entahlah. Kenapa aku jadi merasa seperti ini? Kenapa aku justru merasa tidak rela jika dia harus pergi dari sini? Dari sisiku. Hari beranjak petang. Matahari hanya tinggal menampakkan semburat sinar jingganya membuat pendar warna oranye di langit dan awan sore hari. “Sebaiknya kita pulang, ayo aku antar ke rumahmu,” ajakku kemudian. Ia hanya mengangguk dan meraih tanganku untuk digandengnya. Aku mengantarnya pulang dengan sepedaku. Kami hanya diam selama perjalanan, tak sepatah kata pun keluar dari mulut kami berdua.
“Kau tidak masuk dulu?” dia menawariku untuk singgah sebentar di rumahnya. Tapi hari sudah semakin gelap, aku menolaknya dengan halus. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika aku terlalu lama bersamanya hari ini. Mungkin aku tak akan mengijinkannya pergi esok hari. Lebih tepatnya pergi dari sisiku.
“Hati-hati di jalan,” ia berpesan kepadaku.
“Istirahatlah, besok kau harus berangkat,” kataku sambil beranjak pulang menuntun sepedaku. Aku tak berani memandang wajahnya. Aku takut tak bisa melepaskannya pergi. Tanpa kusadari ternyata air mata telah menetes dari kedua pelupuk mataku. Memang aku bukan siapa-siapa untuknya. Tapi tak bolehkah aku merasa tidak rela jika ia pergi? Dan satu lagi, aku belum mengatakan perasaanku padanya. Mungkin hal satu ini tak perlu kukatakan. Cukup aku dan Tuhan yang mengetahuinya. Aku tak mau membebaninya di saat seperti ini.
***
Kabut masih menggelayut di sekitar bukit ketika aku bangun dari tidurku. Suara cicit burung sudah mulai terdengar menyambut pagi. Perlahan-lahan sang surya pun keluar dari peraduannya. Aku termenung sejenak sebelum beranjak dari tempatku. Aku merindukannya. Sudah cukup lama sejak kepergiannya ke Melbourne aku tak mendapat kabar darinya. Seperti apa dia sekarang? Masihkah senyum manis itu melekat di bibirnya? Aku merindukan segalanya darinya.
***
Aku masih berkutat dengan kameraku untuk mencari objek ketika tak sengaja aku sampai ke tempat dimana dulu kami sering menghabiskan waktu sepulang sekolah. Tempat ini masih sama. Hanya sekarang sudah lebih terawat sehingga pemandangan di sana pun semakin bagus. Pohon rindang dimana aku sering menungguinya pun masih kokoh berdiri di tepi jalan setapak menuju padang rumput itu. Andai dia masih di sini, mungkin kami akan setiap hari mengunjungi tempat ini bersama. Atau mungkin tidak, karena dia mungkin akan mengajak orang lain ke tempat ini. Entahlah.
Aku beranjak turun ke padang rumput di bawah. Selama aku mengikutinya ke sini, belum satu kali pun aku turun ke tempat ini. Aku selalu memerhatikannya dari bawah pohon di tepi jalan. Ternyata ada semacam sungai kecil di sini. Aku segera mengambil kameraku untuk mengabadikan pemandangan indah itu. Aku duduk di tepi sungai dan mencelupkan kakiku kedalamnya. Dingin. Sedingin hatiku yang merindukan kehadirannya kembali. Aku menengadahkan wajahku ke langit. Matahari sudah berada di ufuk barat bersiap pulang ke peraduannya. Aku teringat saat ia mengatakan perpisahan itu. Ia pun belum mengatakan alasannya untuk pergi. Itu salahku jika tak mengetahui alasannya untuk pergi karena aku tak datang saat ia akan berangkat. Aku takut aku tak bisa melepaskannya pergi. Dan aku lebih memilih untuk pergi ke tempat ini daripada harus bertemu dengannya yang akhirnya aku pun tak dapat menemuinya lagi.
Aku masih memandangi langit sore. Mengingat wajahnya yang selalu tersenyum setiap ia memandang langit. Sepertinya ia akan merasa damai jika memandang langit. Aku pun demikian. Sama sepertinya, langit membuatku merasa damai.
Di langitku sekarang, angkasa berlatar belakang merah muda. Setitik cahaya terkecil di sana adalah bintang terindah untukku. Apakah kau sedang menatap langit yang sama di sana? Dan apakah pula bintang terindahku tertatap olehmu?

FIN

Depok, 10 Oktober 2012 at 10.40 PM

About this blog

Total Pageviews

Powered by Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Followers

Let's Talk

Quelle heure est-il?

Most Viewed

Labels